11 Agustus 2008

16 Mei 2008

Bendera PSP Padang

15 Mei 2008

Mengerti PSP & Paham Peraturan

(Sebuah Catatan Dalam Rangka Berbagi Pengalaman Menjadi Manajer PSP Padang)

Oleh : Indra Dt. Rajo Lelo, SH

Ketika mendengar banyak yang berminat menjadi Manajer PSP, terus terang saya merasa sangat-sangat gembira. Sebab bila itu benar, Alhamdulillah beban berat yang selama ini saya pikul, akan bisa digantikan oleh yang lain. Jujur saja, hal itu juga bukan karena saya tidak cinta lagi kepada PSP. Apalagi dalam kapasitas sebagai pengurus PSP, tugas sebagai Manajer, justru saya lakukan karena rasa tanggung-jawab dan cinta saya pada PSP. Tapi ketika ada yang mau dan lebih mampu, saya pasti akan sangat mendukungnya.

Latar belakang kegembiraan itu pulalah yang membuat saya ingin menulis dan sedikit bercerita dan berbagi pengalaman selama menjadi Manajer PSP Padang khususnya selama empat tahun terakhir. Paling tidak, dengan berbagi pengalaman seperti ini, calon-calon Manajer – yang katanya sekarang banyak muncul – akan tahu dan mengerti bagaimana sebenarnya menjadi Manajer PSP Padang.

Hal pertama yang ingin saya garis bawahi adalah soal PSP Padang. Sudah jadi rahasia umum, bahwa PSP bukanlah tim elit dan kaya raya seperti tim-tim lainnya. Karena itu bagi seorang Manajer PSP, jangan harap akan dapat memenej keuangan tim dengan gampang. Karena memang duit itu betul yang sangat kurang. Justru yang diminta dari seorang Manajer PSP adalah bagaimana ia mengelola dan memenej keuangan tim dengan sehemat mungkin, tapi dengan tuntutan prestasi yang sangat maksimal.

Kedua, masih soal keuangan tim. Tugas Manajer PSP sebagaimana yang saya rasakan selama ini adalah lebih banyak hanya untuk memenej keuangan tim dengan catatan uang itu disediakan atau dicarikan oleh pengurus. Jadi, Manajer Tim PSP tugasnya hanya mengatur penggunaan uang yang disediakan pengurus dan bukan berusaha pula mencari uang. Itu sebabnya ketika beberapa rekan wartawan mempertanyakan soal kenapa dana PSP hanya sebanyak yang disediakan APBD tanpa ada dana lain yang dicarikan Manajer, jawabannya ya seperti yang saya katakan di atas.

Ketiga, dalam hal pelaksanaan pengelolaan keuangan. Yang selama ini terjadi adalah bahwa uang yang disediakan atau diberikan pengurus justru lebih banyak kurangnya daripada berlebih. Itu semua bukan karena pengurus tidak berusaha. Sebab sebagai pengurus saya juga tahu bagaimana tunggang-langgangnya Bapak Yusman Kasim selaku Ketua Umum PSP berusaha mencarikannya. Untung pula ia dibantu Sekum PSP N. Nofi Sastera yang ready kapan dan dimana pun siap dan bisa mempersiapkan semua surat dan bahan-bahan yang diperlukan dalam hal pencarian dana. Tapi yang banyak terjadi pada akhirnya seperti saya katakan di atas, jumlah yang didapat tetap lebih banyak kurangnya daripada berlebih.

Keempat dan ini yang sangat penting untuk dicatat para calon Manajer yaitu saat masih dalam tahap seleksi dan latihan berjalan menjelang tim terbentuk. Prosesnya bisa berlangsung sekitar tiga atau empat bulan. Selama tiga atau empat bulan itu, nyaris tidak ada dana yang disediakan oleh pengurus. Karena pada umumnya pembentukan tim cenderung berlangsung di akhir-akhir tahun. Otomatis, anggaran yang tersedia, jelas belum ada. Karena anggaran sebelumnya baik dari APBD maupun dari ABT di Perubahan APBD, juga sudah tersedot habis untuk tim sebelumnya, bahkan itu pun masih sering kurang.

Sebagai contoh bila kita ingin membentuk tim PSP untuk Divisi Utama tahun 2008 nanti. Jujur saja, PSP saat ini tak punya dana lagi. Benar bahwa PSP mendapat bantuan dari Perubahan APBD Sumbar maupun APBD Kota Padang. Namun dana tambahan dari kedua ABT itu masih belum cukup untuk menutupi kekurangan tim PSP 2007 yang Alhamdulillah telah lolos ke Divisi Utama. Dengan kondisi seperti itu, jelas untuk pelaksanaan seleksi dan latihan berjalan menjelang terbentuknya tim – mungkin selama November 2007 sampai Februari 2008 nanti – PSP tak punya dana untuk kebutuhan selama seleksi dan latihan berjalan itu.

Kesimpulannya, dan inilah yang selama empat tahun ini saya rasakan, sebagai Manajer, saya harus merogoh kantong pribadi bahkan sampai ratusan juta sebelum diganti di bulan Februari atau Maret, saat dana APBD sudah bisa dicairkan.

Kelima soal ikatan kontrak si pemain. Sudah merupakan hal yang wajar bila banyak pemain ingin segera diikat kontrak. Hal itu agar mereka bisa lebih tenang dan tidak repot lagi mencari klub lain. Namun dalam hal ini jika seorang Manajer tidak tahu persis dengan kebutuhan pemain di satu tim, bisa-bisa ia mengontrak pemain yang hanya bagus sesaat. Istilahnya, kita akan tabali lado pagi. Sebab proses seleksi dan latihan berjalan itu lamanya sekitar tiga sampai empat bulan. Bila di bulan pertama saja kita sudah melakukan ikatan kontrak, sementara di bulan-bulan berikut masih banyak pemain yang melamar, bisa-bisa kita akan mengontrak pemain yang hanya punya skill seadanya. Dalam hal ini, kerjasama dengan tim pelatih sangat dibutuhkan. Sebab yang akan memakai pemain di lapangan adalah si pelatih. Oleh karena si pelatih-lah yang lebih tahu kebutuhan pemain untuk timnya. Karena itu sebelum ada persetujuan dari pelatih, sebaiknya jangan melakukan negosiasi apapun dengan si pemain.

Dalam hal mengikat pemain asing, juga ada jurus tersendiri yang harus diketahui oleh seorang Manajer. Seperti yang dikatakan di atas, jangan tergesa-gesa dalam melakukan ikatan kontrak. Karena sebagai orang mempekerjakan si pemain, adalah hak manajamen untuk kapan harus mengikat si pemain dengan kontrak yang pasti. Apalagi, biasanya pemain yang melamar juga banyak. Karena itu sekali lagi jangan tergesa-gesa. Adalah wajib, pemain yang akan dinegokan kontraknya, sudah mendapat rekomendasi atau persetujuan dari pelatih.

Keenam, soal pendaftaran tim. Ini juga membutuhkan kiat-kiat khusus dan juga dukungan hubungan baik dengan pengurus atau petugas pendaftaran di BLI maupun PSSI. Lebih-lebih soal pemain asing. Banyak syarat dan ketentuan yang diperlukan. Termasuk dalam melakukan nego dengan agennya. Ini juga dibutuhkan kiat-kiat tersendiri. Sebab bila tidak begitu, bisa terjadi kita membeli pemain terlalu mahal. Sementara dengan kondisi keuangan PSP yang serba minim, apakah itu mungkin?

Di sisi lain, keahlian atau pengetahuan dari seorang Sekretaris Tim dalam hal peraturan dan ketentuan yang berlaku dalam hal kontrak dan pendaftaran pemain juga sangat dituntut. Dalam hal peraturan misalnya, salah-salah pendaftaran pemain yang kita lakukan terpaksa harus berulang-ulang ke BLI. Jika itu terjadi, berapa biayanya? Dalam membuat klausul kontrak juga begitu. Harus sangat dipahami hak dan kewajiban si pemain, disamping hak dan kewajiban kita sebagai owner atau pemilik klub. Jika salah menuliskan klausul kontrak, bisa-bisa tim yang dirugikan.

Beberapa hal di atas, baru sebagian dari kiat-kiat yang harus diketahui seorang Manajer Tim. Masih banyak hal lain yang cukup panjang bila dituliskan semuanya. Terutama soal keuangan tadi. Jika tidak pandai-pandai memenej keuangan, bisa-bisa biaya tim jadi membengkak. Begitu juga dalam hal mencapai prestasi tim. Jika tidak tahu bagaimana kiatnya, meski tim sudah bagus, jangan harap bisa jadi juara.

Terlepas dari itu, jika memang banyak yang berminat jadi Manajer PSP, saya secara pribadi tentu akan mendukung. Namun sebelum berpikir untuk jadi Manajer PSP, saya juga ingin mengingatkan untuk berpikirlah secara lebih jernih. Karena seperti yang saya alami, khususnya seusai Kompetisi Divisi I tahun 2007 ini. Meski sudah berhasil meloloskan PSP ke Divisi Utama dengan dana yang sangat minim, jangankan pujian dan terima kasih yang didapat, namun justru umpatan dan caci maki yang diterima. Mungkin benar bahwa memang begitulah dunia. Namun hal ini pulalah yang perlu saya ingatkan lewat tulisan ini. Sebab bila tidak kuat mental, bisa-bisa kita akan terlibat polemik di media massa, atau bahkan lebih buruk dari itu.

Nah, bagi para calon Manajer PSP yang baru. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk Anda jadikan pegangan. Dan semoga pula, di tangan Anda, prestasi PSP Padang akan lebih baik lagi. Saya pribadi tentu akan kecewa, bila nanti PSP jatuh lagi ke Divisi I. Untuk itu, pahamilah dulu kondisi di PSP, dan juga berusahalah untuk mengerti dengan semua ketentuan dan peraturan yang berlaku. Jika itu sudah oke, silahkan maju jadi Manajer PSP. Salam.

(Indra Dt. Rajo Lelo, SH adalah Mantan Manajer PSP Padang selama Empat Periode sejak masih di Divisi III sampai meloloskan PSP ke Divisi Utama PSSI)

PSP – From Zero to Hero

Oleh : DRS. H. YUSMAN KASIM

Alhamdulillah, keinginan warga pencinta bola kota Padang akhirnya terwujudkan. PSP Padang kembali masuk Divisi Utama. Kepastian itu diperoleh setelah PSP menang 2-1 atas PSKPS Padang Sidempuan dan akhirnya dilengkapi dengan kemenangan terakhir 1-0 atas tim negeri tetangga, PSPS Pekanbaru. Tim PSP Padang akhirnya mengemas nilai 34, tertinggi dari 9 peserta (dulunya 10 tim termasuk Medan Jaya yang mengundurkan diri) pada grup I Kompetisi Divisi I tahun ini.

Terlepas dari tim PSP yang saat ini masih terus berjuang memperebutkan gelar juara Kompetisi Divisi I tahun 2007 di Solo, apa yang telah diperoleh PSP saat ini tentu sangat menggembirakan khususnya bagi pengurus PSP periode 2004-2008. Prediksi awal Tim Penyusunan Program Kerja PSP yang dipimpin Sekum PSP Saudara Nofi Sastera ternyata tepat dan sesuai dengan target.

Benar bahwa tahun 2006 lalu kita sebenarnya sudah punya peluang untuk lolos ke Divisi Utama sebagaimana yang diharapkan. Namun pencapaian tahun ini tentu memiliki nilai yang lebih baik lagi. Paling tidak berkaca pada prestasi dua tim promosi tahun lalu PSSB Bireuen dan Persiraja Bandaaceh, yang nasibnya saat ini menyedihkan karena berpeluang besar kembali jatuh ke Divisi I. Sinyal yang dapat kita tangkap dari nasib PSSB Bireuen dan Persiraja Bandaaceh ini adalah jangan tergesa-gesa bila tidak pasti sejauh mana kesiapan kita untuk berada di Divisi Utama itu.

Kembali kepada PSP Padang. Bila boleh jujur, keberhasilan PSP lolos ke Divisi Utama tahun depan adalah merupakan buah dari perjuangan yang sangat minim dukungan dana, kalau tak boleh disebut tidak ada sama sekali. Pasalnya sejak pertama kali pengurus PSP periode 2004-2008 memulai tugasnya, tim PSP saat itu justru berada di kelompok Divisi III, yang merupakan kompetisi antar klub atau perserikatan di lingkungan Pengda PSSI Sumatera Barat. Sesuai istilah yang sering disebut banyak orang, bermain di kompetisi tarkam bagi tim sekelas PSP Padang yang punya nama dan sejarah panjang di sepakbola, jelas takkan bisa memancing minat orang untuk membantu PSP.

Tahun berikutnya, saat PSP sudah masuk Divisi II Nasional, kondisi yang sama juga harus dialami. Yaitu kurangnya perhatian orang tak hanya untuk membantu dana bahkan menonton pertandingan PSP sekali pun. Tahun berikutnya saat PSP sudah masuk Divisi I setelah menjadi Juara III Divisi II di Kudus, kondisi serupa masih tak berapa jauh berbeda. Tak heran bila di tahun 2007, saat PSP masih bertahan di Divisi I, tim PSP tetap tercatat sebagai tim yang sangat kecil sekali dukungannya, termasuk dukungan dana dari APBD.

Di luar bantuan dari Perubahan APBD yang saat ini dalam proses, total bantuan yang didapat PSP Padang dari APBD hanya Rp 2,75 Milyar dengan rincian Rp 2,5 M dari APBD kota Padang dan Rp 250 Jt dari APBD Provinsi Sumatera Barat. Bandingkan jumlah Rp 2,75 M tersebut dengan dana yang disediakan APBD tim daerah lain seperti PSAP Sigli Rp 14 M, Persih Tembilahan Rp 13 M, PSPS Pekanbaru Rp 11 M dan umumnya tim peserta grup I Divisi I yang rata-rata di atas Rp 7 M.

Dengan dana sebesar itu benar seperti ditulis Sekum PSP Padang N. Nofi Sastera di sebuah koran lokal Padang beberapa hari lalu, PSP akhirnya terpaksa hutang sana hutang sini. Tak hanya itu, saya sebagai Ketua Umum juga harus tunggang langgang lobi sana sini mencarikan dana untuk tim PSP. Selain itu tak terhitung pula banyaknya uang pribadi Ketua Harian sekaligus Manajer PSP Sdr. Indra Dt. Rajo Lelo harus terbenam dulu untuk mengatasi kekurangan biaya yang dialami PSP.

Dengan dukungan pendanaan yang sangat minim itu pula sebabnya, saya lebih cenderung menyebut tim PSP Padang beranjak dari sebuah kekosongan alias zero. Namun berkat kemauan, kerja keras dan kerjasama antara unsur pengurus dan manajemen tim serta dukungan Pemda Kota dan Pemda Provinsi serta berbagai pihak lain termasuk pers dan fans klub, Alhamdulillah tim PSP bisa mencapai impiannya. PSP Padang lolos ke Divisi Utama tahun 2008.

Dengan kondisi pendanaan seperti itu, agaknya tak salah bila saya kadang sempat melontarkan istilah bahwa perjuangan tim PSP Padang itu seperti istilah from zero to hero alias dari nol menjadi perkasa, atau dari kekosongan menjadi seorang pahlawan. Ya, PSP Padang memang layak disebut saat ini sebagai Pahlawan Kota Padang, apalagi dengan keberhasilan yang dicapai juga didapat pada saat Padang sedang merayakan HUT yang ke 338.

Catatan yang harus digaris-bawahi dari kondisi ini adalah apakah PSP akan seterusnya dengan kondisi from zero to hero ini, atau tidak. Jawabannya tentu kita pulangkan kepada pemilik PSP Padang yakni Pemda Kota Padang, Pemda Provinsi Sumatera Barat dan masyarakat secara umum. Sebagai pilihannya, bila PSP punya dukungan lebih baik, Insya Allah, prestasi atau sekurangnya bertahan di Divisi Utama akan bisa diraih. Tapi kalau kita terus berharap dengan from zero to hero nasib PSP Padang di Divisi Utama jelas tak bisa dipertanggung-jawabkan.

Lantas, masihkah kita akan bertahan dengan kondisi atau prinsip from zero to hero itu?

PSP dan Bupati Bantul

Menarik membaca pernyataan Bupati Bantul Idham Samawi di salah satu koran Sumbar Sabtu (01/9) lalu pasca lolosnya Persiba Bantul ke Divisi Utama tahun depan. Pasalnya Bupati Idham Samawi langsung menganggarkan Rp 6 Milyar untuk Persiba dari APBD Kabupaten Bantul sebagai modal Persiba untuk berlaga di Divisi Utama tahun depan.

Penganggaran dana sebesar itu menurut Bupati Idham meski diakui belum mencukupi semua kebutuhan tim Persiba di Divisi Utama nanti, namun paling tidak bisa menjadi stimulan pemancing dana atau bantuan lain yang berasal dari berbagai sumber seperti sponsor dan sumbangan lain yang tidak mengikat.

“Bagaimana pun kita tentu tak ingin Persiba hanya sekedar numpang lewat di Divisi Utama. Karena itu, sebagai modal awal, kita anggarkan dulu sebanyak itu,” ujar Idham.

Apa yang disampaikan Bupati dari daerah yang bersebelahan dengan kota Yogyakarta itu tentu saja menarik untuk dicermati bila dikorelasikan dengan lolosnya tim kesayangan warga kota Padang PSP Padang ke Divisi Utama tahun depan. Menariknya karena ada sedikit perbedaan yang kiranya patut dicermati. Tujuannya tentu saja bisa menjadi motivasi bagi kita dalam mengambil sikap bagi para pengambil kebijakan terhadap kelanjutan nasib PSP Padang.

Pertama, Bantul hanyalah sebuah kota kabupaten yang tak sama dengan Padang yang ibukota provinsi. Kedua Persiba Bantul lolos ke Divisi Utama dengan status runer-up grup III Divisi I di bawah Persibo Bojonegoro yang akan jadi lawan PSP Padang putaran final Divisi I tanggal 7 dan 10 September nanti di Solo. Artinya, secara kualitas tim, bisa dikatakan, PSP sedikit lebih unggul ketimbang Persiba Bantul. Pertanyaannya sekarang, bila Bantul yang dengan status dan kualitas sedikit di bawah Padang saja sudah demikian besar perhatian dari Bupati-nya, bagaimana dengan Padang?

Minimal Rp 10-15 Milyar

Tanpa bermaksud mendikte siapa-siapa, apa yang disampaikan Bupati Bantul Idham Samawi pantas jadi contoh bagi kita di Padang untuk mengambil sikap guna kelanjutan prestasi PSP. Sebab dari prakiraan kasar, minimal dibutuhkan dana sebesar Rp 10-15 Milyar agar PSP bisa eksis di Divisi Utama PSSI.

Benar ada wacana yang muncul bahwa pengelolaan tim PSP Padang akan diserahkan kepada Bapak Gubernur atau Pemda Sumatera Barat. Namun kalau pun itu terwujud, bukan berarti Pemda Kota Padang bisa lepas tangan dalam hal ini. Sebab secara moral, PSP adalah milik Kota Padang. Karena itu Pemda Padang tak boleh membiarkan atau lepas tangan begitu saja atau pun menyerahkan pengelolaan PSP kepada pihak lain. Justru sebaliknya Pemda Padang-lah yang harus pertama sekali bertanggung-jawab terhadap nasib dan prestasi PSP Padang.

Kembali kepada perbedaan antara Bantul dan Padang sebagaimana yang disebutkan di atas, rasanya tak salah bila Padang juga harus berkaca kepada Bantul. Paling tidak, dari sekarang-sekarang sudah harus ada pernyataan dari petinggi kota Padang tentang berapa dana yang dianggarkan APBD Padang untuk PSP. Supaya ke depan pengelolaan tim PSP dapat dilakukan dengan lancar, aman dan tidak hutang sana sini lagi.

Bagaimana pun sungguh tidak wajar bila nasib PSP hanya menjadi pikiran sekelompok orang saja seperti pengurus atau manajemen tim. Pikiran dan dukungan Pemda Kota dan Pemda Provinsi tentu akan lebih memiliki nilai yang sangat berarti bagi PSP Padang.

Atau, akan kalah pulakah kita dengan Bantul?

14 Mei 2008

PSP Pasca Lolos ke Divisi Utama

Oleh : N. Nofi Sastera*

Alhamdulillah, penantian panjang warga Padang pencinta sepakbola akhirnya terwujudkan. PSP Padang kembali ke Divisi Utama. Seperti diistilahkan harian Singgalang, PSP pulang kembali ke rumahnya. Tak berlebihan memang. Divisi Utama adalah tempat yang pantas untuk PSP yang saat ini sudah berusia 79, sejak dilahirkan tahun 1928 lalu dengan nama PVC (Padang Voeteball Club).

Sebagai sebuah tim perserikatan yang sudah sangat senior, PSP memang sejajar dengan Persija Jakarta, PSMS Medan, Persebaya Surabaya, Persib Bandung dan PSM Makasar. Dari catatan sejarah, PSP bersama ke lima tim perserikatan di atas, dulunya pernah disebut sebagai Enam Jawara Perserikatan Sepakbola Indonesia. Itu pula sebabnya PSP dulunya paling sering mendapat kehormatan dikunjungi tim-tim besar dari luar negeri seperti Lokomotiv Moscow Rusia, Red Stars Belgrade Yugoslavia, Sao Paolo Brazil dan Middlesex Wanderrers Inggris.

Dari tim ini pula pernah lahir pemain sekaliber Arifin yang pernah memperkuat Indonesia pada putaran final Piala Dunia 1938 meskipun dengan bendera NIVU (Nederlandsche Indische Voetbal Unie). Dari tim ini pula pernah lahir pemain sekaliber Oyong Liza, Ishak Liza dan Suhatman Imam yang pernah nyaris meloloskan Indonesia ke Olympiade 1976, jika saja pada saat itu eksekusi terakhir dari Anjasmara berhasil mencetak gol ke gawang Korea Utara yang dikawal kiper An Se Uk.

Gali Lobang Tutup Lobang

Kembali ke tim PSP 2007. Keberhasilan tahun ini, setelah menunggu selama enam tahun sejak degradasi tahun 2001 lalu, tentu terasa sangat menyejukkan. Terutama bagi pengurus PSP periode 2004-2008 yang sejak awal mencanangkan membawa PSP kembali ke Divisi Utama. Seperti tertuang pada Buku Program Kerja Empat Tahun Pengurus PSP periode 2004-2008, maksimal PSP ditargetkan lolos ke Divisi Utama tahun 2008. Alhamdulillah, target itu tercapai, persis sebagaimana yang dirancang sejak awal.

Kepuasan ini tentu saja sangat beralasan. Sebab bila diingat bagaimana di awal-awal kepengurusan ini berjalan, PSP harus terseok-seok di Divisi III PSSI Sumbar. Akibatnya PSP harus berkompetisi dulu dengan tim-tim Sumbar lainnya. Saya pribadi masih ingat bagaimana saya harus mengalami mabuk darat (saya memang tak kuat jalan darat terlalu jauh) untuk melihat tim PSP bertanding di Lapangan Gumarang Batusangkar dan terakhir final melawan PSKB Bukittinggi di Stadion Batutupang Solok.

Saya juga sangat hafal bagaimana pusingnya pengurus harus gali lobang tutup lobang mengatasi persoalanan pendanaan untuk tim PSP. Selain Ketua Umum PSP Yusman Kasim yang harus tunggang langgang melakukan lobi demi lobi serta berjuang di DPRD untuk meloloskan anggaran PSP, Saudara Indra Dt. Rajo Lelo, Manajer Tim PSP yang sukses selama empat periode kompetisi (sejak Divisi III sampai lolos ke Divisi Utama tahun ini) adalah orang yang menurut saya paling marasai dalam mengelola tim PSP. Sebab tak terhitung lagi kalinya ia harus rela manumbok kekurangan dana PSP dengan dana pribadinya sebelum akhirnya diganti oleh pengurus. Bahkan sejumlah uangnya sampai saat ini terpaksa harus direlakannya tak kembali. Semuanya tentu hanya demi PSP Padang, tanpa pamrih apa pun.

Sekarang, PSP sudah kembali ke Divisi Utama. Akankah kebiasaan tumbok-manumbok, hutang sana hutang sini atau pontang-panting mencari dana untuk mengelola tim PSP ini masih akan berulang? Masih akan adakah keluhan miris dari Saudara Indra Dt. Rajo Lelo yang kadang sudah hampir angkat tangan mencari panumbok biaya PSP karena selain capek mencari panumbok biaya ia juga banyak dicerca masyarakat pencinta yang mungkin menganggap PSP punya banyak uang sehingga Manajer hanya tinggal mengeruk uang itu untuk mengelola tim PSP ini.

Di bagian lain, berkaca kepada pengalaman dan berkaca kepada nasib Persiraja saat ini, kita semua tentu juga tak ingin PSP hanya sekedar numpang lewat di Divisi Utama. Meski secara finansial dan prasarana pendukung PSP juga belum cocok ke Liga Super, namun setidaknya PSP harus eksis dan bertahan di Divisi Utama. Sebab PSP-lah satu-satunya tim asal perserikatan di Sumbar yang ada di Divisi Utama.

Gerak Cepat

Untuk itu menurut saya, PSP haruslah bergerak cepat dari sekarang-sekarang. Yang terpenting tentu saja soal pendanaan PSP di Divisi Utama nanti. Apalagi di tahun 2008 Padang juga akan disibukkan dengan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). Sebagaimana yang sudah saya rasakan sejak jadi Sekretaris Tim PSP mulai tahun 1996 lalu, kegiatan Pilkada sering sangat menyita perhatian sehingga pengelolaan pendanaan PSP sering terabaikan. Sebut saja seperti Pilkada tahun 1997, dimana Suhatman Imam sebagai pelatih kepala saat itu mundur dari tim karena gaji pemain PSP sudah tiga bulan tidak dibayarkan. Pada Pilkada tahun 2003 juga begitu. PSP saat itu bahkan jatuh ke Divisi III, divisi terbawah dari sistem persepakbolaan nasional.

Seperti sudah sama-sama diketahui pendanaan Divisi I tentu tidak sama dengan Divisi Utama. Selain peningkatan kualitas pemain yang diiringi peningkatan gaji dan kontrak pemain, biaya pertandingan kandang dan tandang serta biaya akomodasi dan konsumsi juga otomatis berbeda dengan saat di Divisi I. Bila kini PSP sudah menghabiskan biaya sekitar kurang lebih Rp 4,5 M meski dari APBD 2007 hanya Rp 2,75 M (Rp 2,5 M dari APBD Padang dan Rp 250 Jt dari APBD Provinsi), tentu bisa diperkirakan sekurang-kurangnya PSP butuh sekitar Rp 5 – 5,5 M untuk menyelesaikan kompetisi Divisi I tahun ini.

Berkaca kepada tim-tim perserikatakan kecil yang timnya berada di Divisi Utama saat ini seperti PSDS Deliserdang, paling kurang PSP butuh biaya sebesar Rp 9 – 10 M bila berlaga di Divisi Utama. Jumlah ini tentu saja bila PSP hanya pasang target bertahan. Tapi jika ingin mentargetkan juara, tentu jumlah sebegitu tak ada artinya. Lihat saja Persija yang sudah menganggarkan Rp 25 M atau PSMS dan Persebaya yang menganggarkan sekitar Rp 20 M. Prestasi tim-tim itu pun juga belum otomatis juara.

Benar seperti istilah yang sering disebut-sebut Walikota Padang Fauzi Bahar bahwa logistik tidak akan pernah memenangkan perang, tapi tanpa logistik jangan harap bisa memenangkan perang. Itu artinya bahwa meski uang banyak bukanlah jaminan untuk bisa juara, tapi tanpa uang juga jangan berharap untuk jadi juara. Sisi inilah yang perlu menjadi pemikiran kita bersama.

Memang sudah pernah ada beberapa wacana seperti penggabungan PSP Padang dengan Semen Padang atau pengelolaan PSP diserahkan ke Pemda Sumbar. Namun tentunya ini diharapkan tidak hanya jadi sebatas wacana. Hendaknya hal itu harus diwujudkan menjadi kenyataan. Dalam arti kata harus ada langkah konkrit yang bisa menjadi jaminan agar PSP bisa eksis di Divisi Utama.

Muara dari semua itu tentu kita pulangkan kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah untuk memikirkan hal. Sebab ketika semua masyarakat menginginkan kebanggaan harus ada tim dari Sumbar yang berada di Divisi Utama, Insya Allah PSP kini telah bisa mewujudkannya. Kini, ketika kebanggaan itu telah terwujudkan, tentu tanggungjawab kita pula untuk menjaga kebanggaan itu.

Seperti sering dikatakan Ketua Umum PSP Yusman Kasim bahwa pemilik PSP adalah masyarakat dan pemerintah daerah, sedang pengurus hanya pihak yang diberi kepercayaan untuk mengelola. Karena itu mungkin kini saatnya kita sama- sama tunjukkan tanggungjawab kita sebagai pemilik (owner) tim PSP ini. Harapannya tentu saja agar PSP bisa berprestasi dan tak hanya sekedar numpang lewat di Divisi Utama.

Siapkah Owner?

(* - Penulis adalah Sekretaris Umum PSP Padang)

Dilematika PSP

Oleh : N. NOFI SASTERA

Sejak zaman katumba bagaimana masalah PSP, saya pikir semua orang mungkin sudah tahu. Ya, dana adalah persoalan klasik yang selalu menerpa tim yang katanya kebanggaan masyarakat Padang dan Sumatera Barat ini. Sebab tak terhitung kalinya, masalah tim PSP dengan dananya yang seret, selalu muncul dan menjadi cerita hangat di koran-koran..

Tanpa bermaksud mencari pembenaran bahwa persoalan dana itu membolehkan PSP melalaikan kewajibannya terhadap tim PSP, namun kondisi itu memang tak bisa dielakkan. Sebagai contoh di tim PSP tahun 2007 ini. Saya tak mengelak bila masih banyak kewajiban PSP yang belum dibayar baik pada pemain, pelatih maupun pada beberapa rekanan yang telah membantu misalnya dalam hal konsumsi dan akomodasi tim. Saya pun tak menyalahkan bila beberapa di antaranya bahkan sempat mengejar-ngejar meminta hutang. Di sisi lain banyaknya ”nyanyian sumbang” tentang PSP di media massa, menurut saya juga tak bisa disalahkan. Karena memang begitulah keadaannya.

Namun haruskah sisi ini saja yang ditonjolkan? Benarkah semua ini hanya tanggung-jawab Manajemen Tim PSP? Rasanya pasti tidak begitu. Masalah dasarnya, tentu saja terletak pada kurangnya dana yang dimiliki PSP untuk berlaga di kompetisi ini. Manajemen Tim juga tak dibekali pitih balungguak untuk mengelola tim ini. Akibat itu pula, wajar bila hutang PSP muncul di sana-sini. Juga janji bisuak ke beko, tak heran terpaksa harus ditebar untuk mengatasi persoalan yang muncul menjelang didapatnya uang pinjaman baru.

Jujur saja, dengan modal hanya + Rp 3 M (Rp 2,5 M dari Pemda Kota Padang dan Rp 250 Jt dari Pemda Provinsi dan + Rp 250 Jt dari sumber lain) jelas ini takkan bisa mengatasi semua kebutuhan PSP. Bandingkan dengan modal yang dimiliki PSAP Sigli yang Rp 14 M, Persih Tembilahan Rp 13 M, PSPS Pekanbaru Rp 10 M. Atau coba juga bandingan dengan PS. Palembang yang dimodali Rp 7 M, namun tetap terkena degradasi.

Semula saya sempat berpikir, dengan berhasilnya PSP lolos ke Divisi Utama sesuai tuntutan masyarakat pada umumnya, maka persoalan PSP akan mudah diselesaikan. Paling tidak, dengan apa yang diidam-idamkan sudah tercapai, maka menurut saya akan ada simpati banyak pihak yang akan membantu PSP. Saya bahkan sempat berandai-andai, bahwa di APBD Perubahan yang sekarang sedang diproses di DPRD Provinsi maupun DPRD Kota Padang akan didapat bantuan keuangan untuk PSP dengan angka-angka yang lumayan sehingga semua hutang PSP bisa terbayarkan. Saya juga bermimpi ada sejumlah pengusaha daerah ini yang secara spontan turun-tangan membantu pendanaan PSP.

Tapi agaknya saya bermimpi. Kenyataan yang terjadi malah sebaliknya. Orang lebih suka melihat dan membicarakan tentang pemain PSP yang belum menerima gaji, atau sejumlah orang yang meminta piutangnya kepada PSP. Bahkan di sebuah media nasional, sejumlah perantau malah bilang untuk apa PSP lolos ke Divisi Utama kalau akibatnya pemain ditelantarkan. Selain itu, manajemen tim PSP yang dikatakan tak profesional dianggap jadi kambing hitam persoalan ini.

Saya tentu saja sedih dengan hal ini. Sudahlah mimpi saya belum terwujud, yang didapatkan justru cercaan. Tuduhan yang dialamatkan kepada Manajemen PSP yang dikatakan tidak profesional saya anggap justru terlalu berlebihan. Sebab jika bicara profesional, lantas itu profesional yang bagaimana? Toh Manajer Tim ini tidak digaji dan tidak disediakan uang yang pasti dalam mengelola tim ini. Justru uang Manajer yang terbenam. Lalu soal menelantarkan pemain? Saya yang ikut mendampingi tim ke Semifinal Divisi I di Solo bisa menegaskan bahwa PSP tak pernah menelantarkan pemainnya. Kalau pun tim PSP pulang ke Jakarta dari Solo dengan kereta api eksekutif bukan karena tak mau dengan pesawat. Tapi justru karena memang tak ada tiket akibatnya padatnya jadual penerbangan karena mau masuk puasa.

Lantas inikah yang dikatakan pemain PSP ditelantarkan? Lalu karena inikah maka manajamen tim PSP dikatakan tidak profesional? Masya Allah! Sungguh picik cara berpikir seperti itu. Sebab tanpa pernah mendalami masalah yang dialami PSP Padang, kemudian bicara seenaknya menuding pihak yang sudah bekerja keras dan berkorban begitu banyak dengan tuduhan tidak profesional atau pun tuduhan lain. Subhanallah. Semoga Allah memaafkan dosa mereka.

Bila dirunut ke belakang, jujur saja, Sdr. Indra dan saya tak pernah meminta untuk menjadi Manajer dan Sekretaris Tim PSP 2007 ini. Namun karena tak ada yang mau, maka atas nama tanggungjawab sebagai pengurus PSP, akhirnya kami pun bersedia. Karena tanggung-jawab itu pula kami sebagai Manajemen Tim berusaha dengan segala macam upaya agar PSP bisa lolos ke Divisi Utama. Sdr. Indra bahkan harus rela uangnya terbenam sekitar Rp 400 Jt sampai saat ini untuk menalangi kekurangan yang dialami tim PSP.

Ketua Umum PSP Bapak Yusman Kasim pun juga terpaksa tunggang langgang lobi sana sini mencarikan pinjaman. Nah, ketika semua peluru habis, dan pinjaman yang diharapkan juga tidak dapat, tentu saja banyak hutang yang belum terselesaikan. Lalu, apakah dengan kondisi ini maka kemudian kita harus frustasi dan harus mempertanyakan untuk apa PSP ke Divisi Utama? Sungguh sebuah pertanyaan yang sangat bodoh.

Tapi, saya pikir, inilah dilematika PSP Padang, yang tidak hanya kini, tapi juga dialami tim-tim PSP sebelumnya. Di satu sisi banyak yang menuntut agar PSP harus ke Divisi Utama karena memang di sinilah rumah PSP yang sebenarnya. Tapi di sisi lain, ketika tuntutan itu sudah terpenuhi dan PSP lolos ke Divisi Utama, justru bukan pujian atau dukungan yang didapat. Tapi sebaliknya tudingan, tuduhan dan cercaan yang diterima.

Namun ya, sudahlah . Karena memang begitulah dilematika PSP Padang. Saya justru lebih senang berpikir ke depan tentang bagaimana tim PSP di Divisi Utama tahun depan. Soal siapa yang akan menjadi Manajemen Tim saya rasa bukan masalah utama. Sebab sebagaimana halnya saya, Sdr. Indra Dt. Rajo Lelo juga sudah jauh-jauh hari siap untuk lengser dari Manajemen Tim PSP. Bahkan sejak awal perjalanan Tim PSP 2007 ini, Sdr. Indra juga sudah bersedia menyerahkan jabatan Manajer Tim PSP kepada siapa saja yang berminat dan mampu memegangnya. Namun karena tak ada yang berani tampil – mungkin karena kebiasaan hanya berani ngomong di belakang tanpa pernah berani tampil ke depan – maka sampai habis kompetisi, tetap saja Sdr. Indra yang menjadi Manajer. Meski untuk itu Sdr. Indra harus sabar karena uangnya terbenam sampai sekitar Rp 400 Jt serta karena banyaknya tuduhan akibatnya si penuding tidak mengerti dengan kondisi PSP.

Akhirnya menurut saya, saat ini bukanlah waktunya untuk mencari ini salah siapa. Tapi yang terbaik adalah mari sama-sama carikan solusi untuk mengatasi persoalan PSP. Jika sekarang PSP sudah lolos ke Divisi Utama, mari sama-sama kita pikirkan bagaimana agar PSP bisa eksis dan terus berbicara di persepakbolaan nasional, yang ujung-ujungnya akan mengharumkan nama kota Padang dan Sumatera Barat pada umumnya. Demikian saja. Marhaban ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kita semua mendapat berkah taqwa dari Allah Yang Maka Kuasa. Aminn. (Penulis adalah Sekretaris Umum / Sekretaris Tim PSP Padang 2007)